Selasa, 30 Juni 2009

Iman Kepada Malaikat

Iman kepada malaikat berdasarkan dalil naqli; sebab akal tidak pernah mampu menjangkau eksistensi/keberadaan malaikat. Dalil syara’ tentang adanya malaikat berasal dari Al Qur’an dan sunah Rasul, diantaranya adalah firman Allah SWT :
”Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah (sungguh-sungguh) kepada Allah dan Rasul-Nya dan (kepada) kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. (ketahuilah bahwa) siapa saja kafir terhadap Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisa’: 136]
Malaikat dan Asal Usul Kejadiannya 
Malaikat diciptakan Allah sebelum jin, manusia dan alam semesta. Adapun asal kejadian mereka, sesungguhnya Al Qur’an tidak merincikannya. Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa malaikat itu dijadikan dari cahaya (nur), tanpa menerangkan bagaimana karakteristik (bentuk) cahaya (nur) tersebut. Oleh karena itu, dzat malaikat yang sebenarnya tidak mungkin dapat dijangkau akal, karena ia berada di luar jangkauan panca indera dan akal manusia. Tetapi wujudnya pasti, yang menurut penjelasan Al Qur’an, mereka berada di langit dan di bumi dan saling berpindah tempat di antara keduanya.
Tugas-Tugas Malaikat
Al Qur’an dan sunnah Rasul telah menunjukan berbagai tugas malaikat yang bekerja menurut perintah dan seizin Allah untuk mengatur apa yang ada di langit dan bumi serta apa yang ada dan terjadi di antara keduanya. Misalnya, ada yang ditugaskan untuk mengatur peredaran matahari, bulan dan bintang, mengatur peredaran awan dan turunnya hujan, mengatur terjadinya proses pembentukan janin di dalam rahim. Ada pula yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi setiap manusia, menghitung dan menulis amal usaha manusia. Selain itu, ada pula yang ditugaskan untuk mencabut nyawa, bertugas di jahannam dan jannah, dan tugas-tugas lainnya. Jadi, para malaikat adalah tentara Allah yang paling banyak dari segi kuantitas dan paling banyak dari segi tugas-tugasnya. Inilah tentara yang paling agung. Sebab merekalah yang mengatur alam semesta dengan izin Allah. 

Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah 
Tentang tugas-tugas malaikat, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan: 
“Allah telah mewakilkan para malaikat untuk mengatur langit dan bumi. Mereka (para malaikat itu) bekerja dengan seizin dan atas perintah Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT di dalam Al Qur’an kadang menyebutkan bahwa pengaturan tersebut diserahkan kepada malaikat, seperti firman-Nya :
“Demi para malaikat yang mengatur urusan alam” [QS. An Nazi’aat: 5]
Atau terkadang tugas-tugas pengaturan seperti itu dikaitkan (bersangkut langsung) terhadap Allah, seperti firman-Nya:
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? [QS. Yunus: 3]
Juga perhatikan firman-Nya yang lain:
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kalian tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” [QS Yunus: 31]
Jadi Allah-lah pengatur alam ini dengan perintah (izin) dan kehendak-Nya, sedangkan malaikat mengatur alam ini hanya menjalankan atau melaksanakan perintah saja. Perhatikan firman Allah SWT:
“Dan dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga Sehingga bila datang kematian pada salah seorang diantaramu, lalu utusan-utusan Kami mewafatkannya, sedangkan para utusan (malaikat Kami) itu tidak (pernah) lengah.” [QS. Al An’aam: 61]

Ibnu Qayyim lebih lanjut menjelaskan:
“Sesungguhnya para malaikat yang bertugas dengan izin Allah untuk mengatur urusan manusia sejak terjadinya proses pembuahan di dalam kandungan, sampai matinya manusia. Merekalah yang ditugaskan untuk memproses dan mengembangkannya tahap demi tahap sampai kepada bentuk manusia yang sempurna. Mereka jugalah yang menjaga ketika janin itu masih berada dalam tiga lapisan (chorion, alantion, dan amnion) di dalam kandungan. Mereka yang mencatat rezekinya, amal, ajal, sengsara, bahagia dan mengikuti manusia dalam setiap keadaan, serta mencatat perkataan dan pebuatannya. Mereka melindunginya sewaktu manusia hidup dan mencabut nyawanya serta menghantarkan nyawa itu kembali kepada Allah yang menciptakannya.
Kitabullah dan sunnah menyebutkan jenis malaikat yang ditugaskan mengatur urusan makhluk-makhluk yang diciptakan. Allah telah menugaskan sebagian malaikat-Nya untuk membawa awan dan menurunkan hujan. Jadi malaikat adalah tentara Allah yang paling agung.
Beliau menyebutkan ayat-ayat Al Qur’an mengenai hal ini (baca QS Al-Mursalat: 1-5; An-Nazi’at: 1-5; Ash-Shaffat: 1-3). 
Tingkatan, Tugas dan Wewenang diantara Malaikat 
Mengenai tingkatan tugas dan wewenangnya, Al Qur’an menyebutkannya sebagai berikut:
Malaikat Jibril adalah pimpinan umum dan sangat terkemuka diantara para malaikat. Dialah utusan Allah bagi seluruh nabi dan rasul untuk menyampaikan wahyu dan petunjuk lainnya. Ia sangat perkasa, punya kekuatan yang luar biasa seperti mengarungi angkasa yang maha luas hingga “Sidratul Muntaha” (berada di langit ke tujuh) sampai kembali ke bumi ketika memimpin dan menuntun perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Ia dipatuhi oleh bawahannya, pemimpin yang bijaksana dan sangat dipercaya Allah SWT. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah:
 “Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah, pemilik ‘Arsy, yang ditaati di sana (alam malaikat) lagi dipercaya” [QS At-Takwir: 19-21] 
Malaikat yang diserahi tugas mengatur pembagian rezeki semua makhluk di seluruh alam adalah Malaikat Mikail; seperti diterangkan dalam sebuah hadits riwayat Thabarani dan Baihaqi dengan sanad yang hasan:
“Ketika Rasulullah bertanya kepada Jibril, apa tugas malaikat Mikail? Jibril menjawab: (Ia ditugaskan untuk mengatur) tumbuh-tumbuhan dan hujan.”
Malaikat Israfil ditugaskan meniup sangkakala (ashshur). Ia senantiasa meletakkan mulutnya pada tempat peniupan sangkakala, sebagai tindakan berjaga-jaga jika mendadak ada perintah dari Allah. Beginilah contoh kepatuhan para malaikat kepada Allah. Entah berapa juta tahun keadaan seperti demikian, namun Ia tetap setia kepada tugasnya. Peniupan sangkakala itu dilakukan dua kali, seperti yang diceritakan dalam ayat Al Qur’an:
“(Dan) ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa saja yang berada di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” [QS Az-Zumar: 68] 

Malaikat yang bertugas mencabut nyawa (roh) makhluk hidup (bila telah tiba ajalnya) adalah Izrail; seperti ditegaskan Al Qur’an:
“Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu. Maka hanya kepada Rabbmu kamu pasti dikembalikan.” [QS As- Sajadah: 11] 

Keterangan-keterangan lain didapat dari Al Qur’an dan sunah, antara lain:
“(Yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya (Raqib-Atid), seorang duduk di kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS Qaaf: 17-18]
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahanam yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (berhala); penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS At-Tahrim: 6]
Iman kepada malaikat, meskipun berdasarkan kepada dalil naqli, namun pada hakekatnya, keberadaannya wajib diyakini karena penukilannya bersumber dari sesuatu yang secara akal sudah dipastikan kebenarannya, yakni Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan keimanan yang utuh terhadap malaikat, seorang Muslim akan berhati-hati dalam berbuat, karena ia yakin sang malaikat akan senantiasa mencatat amal baik dan buruknya. Selain itu, iapun akan lebih berani dan optimis dalam mengarungi kehidupan, khususnya dalam mengemban dakwah, karena ia yakin selalu “dikawal” oleh tentara Allah yang perkasa, yakni para malaikat.
 Sumber: Mafahim BKLDK

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar